Masri Sitanggang Oleh Masri Sitanggang Entah siapa yang mengajarkan, entah apa pula dalil syar’i-nya, sehingga sekarang ini a...
Entah siapa yang mengajarkan, entah apa pula dalil syar’i-nya,
sehingga sekarang ini ada kaum muslim yang berpendapat bahwa Islam tidak
boleh dibawa masuk ke ranah politik. Sampai-sampai, ada pula pengurus
BKM (Badan Kemakmuran Masjid) yang melarang para ustadz menyinggung
masalah politik di masjid. Begitu juga di perwiridan.
Kalau di pengajian tidak boleh, di perwiridan tidak boleh, lalu di mana lagi ummat Islam mendiskusikan soal politik, soal nasibnya sendiri ?
Pantaslah, kalau begitu, keadaan ummat saat ini jauh tertingal di bidang sosio-politik dibanding penganut agama lain di negeri ini. Kekalahan di bidang politik, mau tidak mau, kemudian merembet pada ketertinggalan di bidang-bidang lain seperti ekonomi dan pendidikan. Delapan puluh tujuh persen penduduk negeri ini adalah muslim, tetapi yang mengusasi percaturan politik dan ekonomi adalah mereka yang hanya sepuluh persen.
Mereka inilah (yang sepuluh persen) banyak menentukan arah perjalanan bangsa ini dalam banyak hal.
Dulu, masa Orde Baru berkuasa, Sudomo –yang waktu itu menjabat Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), memang sering menyerukan kepada masyarakat agar agama (Islam) tidak dibawa-bawa dalam urusan politik. Agama itu suci, sedang politik itu kotor. Begitu lebih kurang alasannya. Pernyataan dan himbauan –yang juga terasa sebagai sebuah intimidasi, itu adalah dalam rangka mengukuhkan dominasi kekuatan partai penguasa. Memang, ancaman terbesar bagi kekuatan politik penguasa pada masa itu adalah dari kalangan Islam. Kala itu, semangat dan jiwa perjuangan Masyumi –partai Islam terbesar masa Orde Lama, memang masih kuat dan berakar di sebagian besar kalangan ummat Islam.
Berbagai cara dilakukan oleh penguasa untuk menekan kekuatan Islam. Dari mulai yang paling halus seperti yang diserukan Sudomo di atas, sampai kepada penangkapan para aktivis Islalam dan memanjarakannya dengan berbag tuduhan seperti anti Pancasila, Ingin mendirikan Negara Islam dan tuduhan Subversif, yakni tuduhan rencana menggulingkan pemerintahan yang syah. Khutbah Idul Fitri, bahkan khutbah jum’at, tak jarang harus mendapat sensor terlebih dahulu oleh pihak keamanan. Jangan berharap kata-kata seperti “ Penegakan Syariat Islam” dan “Piagam Jakarta” bisa terdengar dari lidah seorang Ustadz di pengajian, atau dari mulut seorang aktivis di dalam seminar ilmiyah sekali pun. Kata-kata itu begitu sangat menakutkan –bukan saja bagi yang menyebutnya, tapi juga bagi yang mendengar-- sebab bisa menghantarkan setiap orang yang membincangkannya ke bilik jeruji besi. Jumlah partai politik dibatasi hanya tiga, yang dipaksa untuk hanya berazaskan Pancasila.
Masa itu adalah masa-masa sulit bagi ummat Islam. Suasana begitu menakutkan, di mana semua orang harus berhati-hati dalam tindakannya, ucapannya, ceramahnya, tulisannya dan bahkan pikirannya. Kegiatan intelijen begitu massiv. Itulah saatnya dimana dinding tembok ruangan pun menjadi bagian dari mata-mata penguasa yang siap melaporkan setiap aktivitas dan ucapan seseorang kepada aparat.
Banyak tokoh ummat yang tak berani menampakkan pikiran Islamnya. Pikiran keislaman disembunyikan, di antaranya, dengan bergabung dengan partai penguasa –baik sukarela maupun terpaksa. Menghadiri undangan kegiatan partai lain, atau bahkan memberi ceramah di “partai Islam” pun banyak yang enggan. Mungkin kondisi ini pulalah salah satu yang menjadi alasan mengapa mendiang DR. Nurchalis Majid sampai pada pendirian “Islam Yes, Partai Islam No”.
Sekitar enam tahun dibungkam oleh Soekarno (Presiden Partama RI), sejak dibubarkannya Masyumi, ditambah 33 tahun proses deidologi Islam yang reprenssif di bawah Suharto (masa Orde Baru) memang cukup efektif meredam Islam politik di Indonesia. Generasi tua yang dulu masih konsisten terhadap –atau setidaknya mengenal perjuangan, Masyumi secara alamiah telah hampir punah ditelan waktu. Sementara generasi mudanya, yang lahir atau dibesarkan di masa Orde Baru, sudah tercetak sebagai genarasi sekuler : generasi yang memisahkan urusan agama dan politik-negara, generasi yang tercemar oleh pemikiran Nurcholis. Di sisi lain, pandangan ideologi lain, di luar Islam, gencar menyerang dan melemahkan kekuatan Ummat.
Lengkaplah sudah penderitaan ummat ini
Terlepas dari kontroversi pikiran Nurcholis Majid tentang “Islam Yes, partai Islam No”, sekarang iklim politik di Indonesia sudah berubah. Reformasi telah menghantarkan bangsa indonesia ke multi partai dengan azas apa pun, termasuk Islam. Negeri ini sudah bebas berbicara soal Islam, tanpa dihantui apa pun, karena itu adalah hak setiap warga negra yang dijamin oleh UU. Termasuk dalam hal ini, Ummat islam pun bebas berbicara dan berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di Indonesia. Inilah, sesungguhnya, era di mana Dakwah Islamiyah terasa longgar dan leluasa, meskipun masih ada juga pihak-pihak yang coba melakukan pengetatan kembali dengan cara-cara lama pula. Maka semestinya ummat Islam, dengan rasa syukur, memanfaatkan keadaan ini dengan baik.
Ummat Islam harus bangkit, berdakwah lewat jalur Politik !
Bab Syiyasah (politik) dalam sistem pengajaran Islam klasik harus kembali diajarkan di pengajian-pengajian di mesjid. Sudah lama Bab ini tak pernah diajarkan yang berakibat pada merosotnya posisi ummat dalam percaturan polotik di negeri ini.
Kalau di pengajian tidak boleh, di perwiridan tidak boleh, lalu di mana lagi ummat Islam mendiskusikan soal politik, soal nasibnya sendiri ?
Pantaslah, kalau begitu, keadaan ummat saat ini jauh tertingal di bidang sosio-politik dibanding penganut agama lain di negeri ini. Kekalahan di bidang politik, mau tidak mau, kemudian merembet pada ketertinggalan di bidang-bidang lain seperti ekonomi dan pendidikan. Delapan puluh tujuh persen penduduk negeri ini adalah muslim, tetapi yang mengusasi percaturan politik dan ekonomi adalah mereka yang hanya sepuluh persen.
Mereka inilah (yang sepuluh persen) banyak menentukan arah perjalanan bangsa ini dalam banyak hal.
Dulu, masa Orde Baru berkuasa, Sudomo –yang waktu itu menjabat Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), memang sering menyerukan kepada masyarakat agar agama (Islam) tidak dibawa-bawa dalam urusan politik. Agama itu suci, sedang politik itu kotor. Begitu lebih kurang alasannya. Pernyataan dan himbauan –yang juga terasa sebagai sebuah intimidasi, itu adalah dalam rangka mengukuhkan dominasi kekuatan partai penguasa. Memang, ancaman terbesar bagi kekuatan politik penguasa pada masa itu adalah dari kalangan Islam. Kala itu, semangat dan jiwa perjuangan Masyumi –partai Islam terbesar masa Orde Lama, memang masih kuat dan berakar di sebagian besar kalangan ummat Islam.
Berbagai cara dilakukan oleh penguasa untuk menekan kekuatan Islam. Dari mulai yang paling halus seperti yang diserukan Sudomo di atas, sampai kepada penangkapan para aktivis Islalam dan memanjarakannya dengan berbag tuduhan seperti anti Pancasila, Ingin mendirikan Negara Islam dan tuduhan Subversif, yakni tuduhan rencana menggulingkan pemerintahan yang syah. Khutbah Idul Fitri, bahkan khutbah jum’at, tak jarang harus mendapat sensor terlebih dahulu oleh pihak keamanan. Jangan berharap kata-kata seperti “ Penegakan Syariat Islam” dan “Piagam Jakarta” bisa terdengar dari lidah seorang Ustadz di pengajian, atau dari mulut seorang aktivis di dalam seminar ilmiyah sekali pun. Kata-kata itu begitu sangat menakutkan –bukan saja bagi yang menyebutnya, tapi juga bagi yang mendengar-- sebab bisa menghantarkan setiap orang yang membincangkannya ke bilik jeruji besi. Jumlah partai politik dibatasi hanya tiga, yang dipaksa untuk hanya berazaskan Pancasila.
Masa itu adalah masa-masa sulit bagi ummat Islam. Suasana begitu menakutkan, di mana semua orang harus berhati-hati dalam tindakannya, ucapannya, ceramahnya, tulisannya dan bahkan pikirannya. Kegiatan intelijen begitu massiv. Itulah saatnya dimana dinding tembok ruangan pun menjadi bagian dari mata-mata penguasa yang siap melaporkan setiap aktivitas dan ucapan seseorang kepada aparat.
Banyak tokoh ummat yang tak berani menampakkan pikiran Islamnya. Pikiran keislaman disembunyikan, di antaranya, dengan bergabung dengan partai penguasa –baik sukarela maupun terpaksa. Menghadiri undangan kegiatan partai lain, atau bahkan memberi ceramah di “partai Islam” pun banyak yang enggan. Mungkin kondisi ini pulalah salah satu yang menjadi alasan mengapa mendiang DR. Nurchalis Majid sampai pada pendirian “Islam Yes, Partai Islam No”.
Sekitar enam tahun dibungkam oleh Soekarno (Presiden Partama RI), sejak dibubarkannya Masyumi, ditambah 33 tahun proses deidologi Islam yang reprenssif di bawah Suharto (masa Orde Baru) memang cukup efektif meredam Islam politik di Indonesia. Generasi tua yang dulu masih konsisten terhadap –atau setidaknya mengenal perjuangan, Masyumi secara alamiah telah hampir punah ditelan waktu. Sementara generasi mudanya, yang lahir atau dibesarkan di masa Orde Baru, sudah tercetak sebagai genarasi sekuler : generasi yang memisahkan urusan agama dan politik-negara, generasi yang tercemar oleh pemikiran Nurcholis. Di sisi lain, pandangan ideologi lain, di luar Islam, gencar menyerang dan melemahkan kekuatan Ummat.
Lengkaplah sudah penderitaan ummat ini
Terlepas dari kontroversi pikiran Nurcholis Majid tentang “Islam Yes, partai Islam No”, sekarang iklim politik di Indonesia sudah berubah. Reformasi telah menghantarkan bangsa indonesia ke multi partai dengan azas apa pun, termasuk Islam. Negeri ini sudah bebas berbicara soal Islam, tanpa dihantui apa pun, karena itu adalah hak setiap warga negra yang dijamin oleh UU. Termasuk dalam hal ini, Ummat islam pun bebas berbicara dan berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di Indonesia. Inilah, sesungguhnya, era di mana Dakwah Islamiyah terasa longgar dan leluasa, meskipun masih ada juga pihak-pihak yang coba melakukan pengetatan kembali dengan cara-cara lama pula. Maka semestinya ummat Islam, dengan rasa syukur, memanfaatkan keadaan ini dengan baik.
Ummat Islam harus bangkit, berdakwah lewat jalur Politik !
Bab Syiyasah (politik) dalam sistem pengajaran Islam klasik harus kembali diajarkan di pengajian-pengajian di mesjid. Sudah lama Bab ini tak pernah diajarkan yang berakibat pada merosotnya posisi ummat dalam percaturan polotik di negeri ini.
Sorch: Islamic Freedom Spirit

COMMENTS