Makna Kemenangan Partai Bulan Bintang (PBB)
Kemenangan PBB memberikan dampak signifikan
terhadap politik nasional.
Maka, dengan kata lain,
ke depan jika ingin mendapatkan simpati dan dukungan umat, PKS harus bisa
ber-fastabiqul khairat dengan PBB. Masing-masing punya kelebihan dan
kekurangan.
[Sumber: ROL]
Oleh: Muhamad Fajar Pramono, Dosen Sosiologi Agama
UNIDA Gontor Ponorogo
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) akhirnya menyatakan
Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi peserta Pemilu 2019. Keputusan itu
disampaikan dalam sidang adjudikasi penyelesaian sengketa proses pemilu yang
dipimpin Ketua Bawaslu Abhan, Ahad (Republika, 4/3) malam.
"KPU memutuskan menolak eksepsi termohon dan
mengabulkan seluruhnya tuntutan pemohon," ujar Abhan saat membacakan
keputusan Bawaslu.
Hasil sidang tersebut juga membatalkan keputusan KPU
tertanggal 17 Februari 2018 yang menyatakan PBB tidak lolos verifikasi nasional
calon peserta pemilu. Bawaslu juga memerintahkan KPU untuk melaksanakan
keputusan Bawaslu maksimal tiga hari sejak dibacakan.
Kemenangan itu tidak hanya menggembirakan PBB,
tetapi juga tentunya umat Islam.
Kemenangan bagi PBB itu menunjukkan, pertama,
kekuatan PBB tidak terbendung oleh kekuatan Islamofobia yang tidak menghendaki
PBB yang selama ini dipahami sebagai pewaris Masyumi untuk eksis dan berkembang
dalam politik di Indonesia.
Kedua, kemenangan PBB menunjukkan Profesor Yusril
Ihza Mahendra adalah bukan politikus ecek-ecek, yang begitu mudahnya dikelabui
cara-cara politik yang tidak lucu dan tidak bermutu. Sedangkan, kemenangan PBB
bagi umat Islam, pertama, menumbuhkan ghirah dan gairah umat Islam dalam
politik yang selama ini aspirasinya belum atau kurang tertampung secara baik
oleh PKS, PAN, PPP, dan PKB.
Dengan demikian, menumbuhkan harapan baru akan
lahirnya politik keumatan yang belum menampung berbagai potensi politik umat,
seperti FPI, HTI, dan gerakan-gerakan Islam lain yang selama ini golput dalam
setiap pemilu.
Setidaknya, secara politik yang selama ini
gerakannya bersifat sporadis menjadi gerakan yang terstruktur dalam PBB dengan
segala kelebihan dan kekurangannya.
Kedua, kemenangan PBB bagi partai-partai Islam,
khususnya bagi PAN, PKB, dan PPP, tidak terlalu “mengganggu” karena sudah jelas
berbeda dengan segi platform yang memang dalam AD/ART bahwa PAN dan PKB di
samping mengedepankan pluralisme, juga tidak mengusung penegakan syariah,
sebagaimana PBB.
Sedangkan, PPP bagi umat Islam posisinya sudah
sangat jelas baik telah memosisikan sebagai partai pendukung pemerintah dan
yang lebih penting dalam konteks Pilkada DKI dianggap tidak punya pemihakan
terhadap gerakan antipenista agama, justru membela habis-habisan.
Jadi, kemenangan PBB tidak punya pengaruh apa-apa
terhadap PKB, PAN, dan PPP. Mungkin yang punya pengaruh cukup signifikan adalah
terhadap PKS. Namun, setelah dikalkulasi secara objektif tidak juga.
Pertama, untuk membangun kekuatan oposisi yang
efektif tidak cukup hanya kekuatan PKS. Kita butuh kekuatan lain, seperti PAN
dan Gerindra, juga tentunya PBB. Untuk menjadi kekuatan baru dalam politik di
Indonesia dibutuhkan sekitar 70 juta-80 juta suara.
Jika mengandalkan PKS, kita hanya punya 8.480.204
suara atau 6,79 persen dari 125.259.891 suara sah dalam Pemilu 2014.
Jadi, kita butuh PAN yang punya 9.481.621 suara
(7,59 persen), juga Gerindra dengan 14.760.371 suara (11,81 persen), dan PBB
yang punya modal 1.825.750 suara (1,46 persen) yang berpotensi mendapatkan
dukungan kelompok-kelompok Islam yang selama ini tidak berpartisipasi dalam
pemilu, seperti HTI dan FPI.
Makna kedua bagi PKS dengan kemenangan PBB
diharapkan bisa menjadi kanal bagi beberapa kelompok atau kader PKS yang tidak
cocok atau kurang nyaman dengan gaya kepemimpinan PKS sekarang.
Kader-kader PKS, seperti Fahri Hamzah (FH) dan
teman-temannya, menurut penulis, lebih baik masuk dan memperkuat PBB daripada
masuk PDIP atau Golkar dalam rangka membangun kekuatan politik keumatan, yakni
kekuatan baru politik Islam yang menyatukan kekuatan politik dan kekuatan
nonpolitik dengan menggunakan formulasi kekuatan gerakan 212.
Sebagaimana dalam suatu keluarga,
persoalan-persoalan kecil bisa memicu keributan antara saudara muda dan saudara
tua. Dan biasanya kalau mereka berpisah justru malah rukun dan muncul kerinduan
di antara mereka.
Makna ketiga bagi PKS, dengan kemenangan PBB
sehingga bisa lolos sebagai partai politik peserta Pemilu 2019 agar lebih
hati-hati dalam politik.
Menghindari pola-pola politik yang blunder
sebagaimana pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Timur 2018 yang oleh sebagian umat
Islam dipahami kurang mempunyai empati terhadap spirit gerakan 212. Jika hal
ini dilakukan berulang-ulang oleh PKS, tidak mustahil mereka akan meninggalkan
PKS.
Karena mereka merasa punya alternatif sebagai
saluran aspirasi politik mereka, yaitu PBB. Artinya, dengan kemenangan PBB juga
meningkatkan sensitivitas dan empati PKS terhadap aspirasi dan dinamika umat
Islam.
Kemenangan PBB tidak hanya meningkatkan partisipasi
umat Islam dalam politik, tetapi juga menjadi energi baru dalam membangun
sistem politik Indonesia yang lebih kokoh. Menurut Gabriel Almond (1960), salah
satu fungsi sistem politik adalah fungsi integrasi.
Fungsi integrasi adalah tugas yang dijalankan sistem
politik dalam mencapai kesatuan dan persatuan masyarakat yang bersangkutan.
Sehingga, tidak ada lagi komponen-komponen dalam sistem politik di Indonesia
yang merasa diabaikan.
Pengabaian ini tidak mustahil sewaktu-sewaktu akan
menjadi ledakan politik yang akan mengganggu jalannya sistem politik itu
sendiri. Sebagai penutup, kemenangan PBB bisa saja menjadi musibah atau rahmat
bagi umat Islam yang ingin membangun sistem politik yang lebih bermartabat.
Sikap kenegarawan, sikap jauh dari egoisme, dan
sikap kebersamaan adalah suatu keniscayaan untuk mewujudkan harkat dan
kehormatan Islam dan umatnya bagi seluruh kekuatan politik Islam.
Khususnya, dalam hal ini PBB, PKS, PAN, Gerindra,
dan syukur PKB serta PPP atas kehendak Allah SWT mau bergabung lagi dengan arus
kekuatan politik keumatan yang kita dambakan. Tidak hanya terwujudnya harkat
dan kehormatan Islam dan umatnya, tetapi terbangunnya Indonesia merdeka dan
bermartabat di antara bangsa-bangsa di dunia ini. Wallahu A’lam.


COMMENTS